Ikhtisar Prakiraan Musim

 IKHTISAR PRAKIRAAN MUSIM KEMARAU 2017 DI 15 ZONA MUSIM ( ZOM ) DI BALI

 

Berdasar hasil analisis serta pertimbangan kondisi fisis dan dinamika atmosfer sebagaimana di atas, Prakiraan Musim Kemarau tahun 2017 pada 15 Zona Musim  (ZOM no 205 s/d 219) di Bali adalah sebagai berikut :

 

 

 

  1. “Awal” Musim Kemarau 2017 pada 15 Zona Musim (ZOM) di Bali, di prakirakan umumnya berkisar pada bulan Mei 2017.

 

 -       Maret 2017                     :   2  ZOM (13.3% dari 15 ZOM)

 

-       April 2017                       :   3  ZOM (20.0% dari 15 ZOM)

 

-       Mei 2017                        :   8  ZOM (53.4% dari 15 ZOM)

 

-       Juni 2017                       :   2  ZOM (13.3% dari 15 ZOM)

 

Sebanyak 2 ZOM, awal musim kemarau antara dasarian I – III Maret 2017, meliputi Nusa Penida, Gianyar bagian selatan, Klungkung bagian selatan dan Karangasem bagian selatan.

 

Sebanyak 3 ZOM, awal musim kemarau antara dasarian I – III April 2017, meliputi Buleleng bagian barat dan timur, Karangasem bagian utara, Tabanan bagian selatan, Badung bagian selatan, Kota Denpasar.

 

Sebanyak 8 ZOM, awal musim kemarau antara dasarian I – III Mei 2017, meliputi Jembrana bagian barat dan utara, sebagian besar Tabanan, Badung bagian utara dan Gianyar bagian tengah, Bangli bagian utara, serta Karangasem bagian tengah dan timur.

              Sebanyak 2 ZOM, awal musim kemarau antara dasarian I – III Juni 2017, meliputi Buleleng bagian utara dan Tabanan bagian utara.

 2.   Perbandingan Prakiraan Awal Musim Kemarau 2017  terhadap rata-rata  periode 1981-2010

 

-       Sama                                         :   4 ZOM (26.6% dari 15 ZOM)

 

-       Maju (Lebih Awal)                      :   1 ZOM (6.7% dari 15 ZOM)

 

-       Mundur (lebih lambat)                : 10 ZOM (66.7% dari 15 ZOM)

 

Apabila dibandingkan dengan rata-rata awal musim kemarau periode 1981-2010, maka sebanyak 1 ZOM maju (lebih awal) dari rata-ratanya, sebanyak 4 ZOM sama dengan rata-ratanya dan sebanyak 10 ZOM dI Pulau Bali mundur (lebih lambat) dari rata-ratanya.

 

3. “Sifat Hujan” Musim Kemarau 2017 pada 15 Zona Musim (ZOM) di Bali, di  prakirakan umumnya Normal (N).

 

 -     Atas Normal (AN)                      :   5 ZOM (33.3% dari 15 ZOM)

 

-     Normal (N)                                 :   7 ZOM (46.7% dari 15 ZOM)

 

-     Bawah Normal (BN)                  :   3 ZOM (20.0% dari 15 ZOM)

 

Sebanyak 7 ZOM, sifat hujan musim kemarau 2017 Normal, meliputi Jembrana bagian barat, Buleleng bagian barat dan Buleleng bagian utara, Gianyar bagian utara dan Gianyar bagian selatan, Karangasem bagian timur dan Karangasem bagian selatan, Klungkung bagian selatan dan Nusa Penida.

 

Sebanyak 5 ZOM, sifat hujan musim kemarau 2017 di Atas Normal, meliputi Jembrana bagian utara dan Jembrana bagian selatan, Bangli bagian utara, Buleleng bagian utara dan Buleleng bagian timur, Karangasem bagian utara, Tabanan bagian selatan, Badung bagian selatan serta Kota Denpasar.

 

Sebanyak 3 ZOM, sifat hujan musim kemarau 2017 di Bawah Normal, meliputi Tabanan bagian barat laut dan tengah dan Karangasem bagian tengah.

 

 Rincian selengkapnya yang kaitannya Prakiraan Musim Kemarau 2017 di Zona Prakiraan Musim (ZOM) di Propinsi Bali tertera pada lampiran - lampiran sebagai berikut :

 

Peta Prakiraan Awal Musim Kemarau 2017 disajikan pada Gambar 1 dan Peta Prakiraan Sifat Hujan Musim Kemarau 2017 di Bali disajikan pada Gambar 2, sedangkan Peta Perbandingan Prakiraan Awal Musim Kemarau 2017 terhadap rata-ratanya disajikan pada gambar 3.

 

 

 

 

 

 

Fenomena Iklim Indonesia

Wilayah Indonesia berada pada posisi strategis, terletak di daerah tropis, diantara Benua Asia dan Australia, diantara Samudera Pasifik dan Samudera Hindia, serta dilalui garis katulistiwa, terdiri dari pulau dan kepulauan yang membujur dari barat ke timur, terdapat banyak selat dan teluk, menyebabkan wilayah Indonesia rentan terhadap perubahan iklim/cuaca. Keberadaan Indonesia tersebut, kondisi iklimnya akan dipengaruhi fenomena El Nino/La Nina bersumber dari wilayah timur Indonesia (Ekuator Pasifik Tengah/Nino 3.4) dan Dipole Mode bersumber dari wilayah barat Indonesia (Samudera Hindia barat Sumatera hingga timur Afrika), disamping pengaruh fenomena regional, seperti sirkulasi monsun Asia-Australia, Daerah Pertemuan Angin Antar Tropis atau Inter Tropical Convergence Zone (ITCZ) yang merupakan daerah pertumbuhan awan, serta kondisi suhu permukaan laut sekitar wilayah Indonesia. Sementara kondisi topografi wilayah Indonesia yang bergunung, berlembah, serta banyak pantai, merupakan fenomena lokal yang menambah beragamnya kondisi iklim di wilayah Indonesia, baik menurut ruang (wilayah) maupun waktu.

A.          FENOMENA YANG MEMPENGARUHI IKLIM / MUSIM DI INDONESIA

1.    El Nino dan La Nina

El Nino merupakan fenomena global dari sistem interaksi lautan atmosfer yang ditandai memanasnya suhu permukaan laut di Ekuator Pasifik Tengah (Nino 3.4) atau anomali suhu permukaan laut di daerah tersebut positif (lebih panas dari rata-ratanya).  Sementara, dampak pengaruhnya El Nino di Indonesia, sangat tergantung dengan kondisi perairan wilayah Indonesia.  Fenomena El Nino yang berpengaruh di wilayah Indonesia dengan diikuti berkurangnya curah hujan secara drastis, baru akan terjadi bila kondisi suhu perairan Indonesia cukup dingin. Namun bila kondisi suhu perairan Indonesia cukup hangat tidak berpengaruh terhadap kurangnya curah hujan secara signifikan di Indonesia.  Disamping itu, mengingat luasnya wilayah Indonesia, tidak seluruh wilayah Indonesia dipengaruhi oleh fenomena El Nino. Sedangkan La Nina merupakan kebalikan dari El Nino ditandai dengan anomali suhu permukaan laut negatif (lebih dingin dari rata-ratanya) di Ekuator Pasifik Tengah (Nino 3.4).  Fenomena La Nina secara umum menyebabkan curah hujan di Indonesia meningkat bila dibarengi dengan menghangatnya suhu permukaan laut di perairan Indonesia.  Demikian halnya El Nino, dampak La Nina tidak berpengaruh ke seluruh wilayah Indonesia .

 2.          Dipole Mode

Dipole mode merupakan penomena interaksi laut – atmosfer di Samudera Hindia yang dihitung dari nilai perbedaan (selisih) anomali suhu muka laut perairan pantai timur Afrika dengan perairan di sebelah barat Sumatera. Nilai perbedaan anomali suhu muka laut ini disebut Dipole Mode Indek ( DMI ).

Jika nilai DMI positif ( Dipole Mode Positif ), secara umum curah hujan di wilayah Indonesia bagian barat akan berkurang. Sedangkan jika nilai DMI negatif ( Dipole Mode Negatif ), maka curah hujan di wilayah Indonesia bagian barat secara umum akan bertambah.

3.       Sirkulasi Monsun Asia - Australia

 

Sirkulasi angin di Indonesia ditentukan oleh pola perbedaan tekanan udara di Australia dan Asia. Pola tekanan udara ini mengikuti pola peredaran matahari dalam setahun yang mengakibatkan sirkulasi angin di Indonesia umumnya adalah pola monsun, yaitu sirkulasi angin yang mengalami perubahan arah setiap setengah tahun sekali. Pola angin baratan terjadi karena adanya tekanan tinggi di Asia yang berkaitan dengan berlangsungnya musim hujan di Indonesia. Pola angin timuran/tenggara terjadi karena adanya tekanan tinggi di Australia yang berkaitan dengan berlangsungnya musim kemarau di Indonesia.

 

4.       Daerah Pertemuan Angin Antar Tropis (Inter Tropical Convergence Zone

/ ITCZ)

 

ITCZ merupakan daerah tekanan rendah yang memanjang dari barat ke timur dengan posisi selalu berubah mengikuti pergerakan posisi matahari ke arah utara dan selatan khatulistiwa. Wilayah Indonesia yang berada di sekitar khatulistiwa, maka pada daerah-daerah yang dilewati ITCZ pada umumnya berpotensi terjadinya pertumbuhan awan-awan hujan.

 

5.           Suhu Muka Laut di Wilayah Perairan Indonesia

 

Kondisi suhu muka laut di wilayah perairan Indonesia dapat digunakan sebagai salah satu indikator banyak-sedikitnya kandungan uap air di atmosfer, dan erat kaitannya dengan proses pembentukan awan di atas wilayah Indonesia. Jika suhu muka laut dingin berpotensi sedikitnya kandungan uap air di atmosfer, sebaliknya panasnya suhu muka laut berpotensi cukup banyaknya uap air di atmosfer.

Dinamika Atmosfer dan Laut Terkini

 A.   KONDISI DINAMIKA ATMOSFER DAN LAUT

 Dinamika atmosfer dan laut dipantau dan diprakirakan berdasarkan aktivitas fenomena alam, meliputi : El Nino / La Nina, Indian Ocean Dipole (IOD), Sirkulasi Monsun Asia-Australia, Inter Tropical Convergence Zone (ITCZ), dan Suhu Permukaan laut Indonesia.

 Monitoring dan prakiraan kondisi dinamika atmosfer dan laut dimaksud yang akan terjadi pada Musim Kemarau 2017, adalah :

 

  1. Monitoring dan Prakiraan Fenomena Global
    1. El Nino – La Nina

 Sejak awal Juli 2016 kondisi anomali suhu muka laut di wilayah Ekuator Pasifik Tengah (Nino 3.4) dalam kondisi La Nina Lemah dan kondisi ini terus berlanjut hingga akhir Desember 2016. Pada awal Maret 2017, indeks Nino 3.4 masih berada pada kondisi Netral dengan indeksnya bernilai +0.11.

 Beberapa analisis menunjukkan bahwa kondisi ENSO Netral ini akan berpeluang menguat dengan kategori El Nino Lemah memasuki pertengahan tahun 2017 (periode JJA). Dalam kaitan ini memberikan indikasi, bahwa Awal Musim Kemarau 2017 di Wilayah Indonesia akan berada pada kisaran mundur dan sama dari normalnya di beberapa wilayah.

Indeks Osilasi Selatan (SOI) sejak Desember 2016 sampai dengan Februari 2017 bernilai kurang dari -10, nilai ini menunjukan kondisi Normal. Kondisi demikian memberikan indikasi bahwa aktivitas sirkulasi angin pasat tidak berpengaruh signifikan ke wilayah Indonesia.

 

    1. Indian Ocean Dipole (IOD)

 Nilai Dipole Mode Indeks (DMI) dalam 3 bulan terakhir adalah : -0.06 (Desember 2016) ; -0.06 (Januari 2017) dan +0.18 (Februari 2017). Kondisi ini mengindikasikan Dipole Mode dalam kategori Netral dan diprediksi bertahan hingga November 2017. Dengan demikian, pada Musim Kemarau 2017, uap air dari Samudera Hindia menuju wilayah Indonesia tidak berpotensi bertambah maupun berkurang.

 

  1. Monitoring dan Prakiraan Fenomena Regional
    1. Sirkulasi Monsun Asia-Australia

 Hingga awal Maret 2017 sirkulasi monsun di Indonesia umumnya masih dalam kisaran normal. Sirkulasi angin pada lapisan 850 mb untuk wilayah Indonesia didominasi dari arah barat, sedangkan di wilayah Sumatera bagian Utara, Kalimantan bagian Utara, Sulawesi Utara dan Maluku Utara angin bertiup arah timur laut. Diprakirakan bahwa monsun Asia diprediksi akan menguat hingga April 2017.

 

    1. Daerah Pertemuan Angin Antar Tropis (Inter Tropical Convergence Zone/ ITCZ)

 

Posisi  ITCZ  pada awal Maret 2017 masih berada di sekitar ekuator dan cenderung bergerak ke arah utara mengikuti pergerakan tahunannya. Jika dibandingkan terhadap posisi rata-ratanya, posisi tersebut cukup sesuai dengan kisaran rata-rata, sehingga potensi sifat musim kemarau tahun 2017 di beberapa wilayah diprakirakan akan cenderung normal sesuai kondisi rata-rata wilayah masing-masing.

 

    1. Suhu Muka Laut di wilayah Perairan Indonesia

 

Hingga awal Maret 2017, kondisi suhu permukaan laut di perairan Indonesia, pada umumnya berada pada kondisi netral cenderung dingin dengan anomali suhu berkisar -1°C s/d +1°C. Daerah dengan suhu permukaan laut relatif hangat berada di perairan Selatan Jawa, perairan Barat Sulawesi dan perairan Maluku Utara yang anomali suhu permukaan lautnya mencapai +1°C.

 

Suhu permukaan laut di Indonesia selama Musim Kemarau 2017 diprakirakan sebagai berikut :

 

1)    Wilayah perairan di Utara Sumatera dan Utara Papua diprakirakan akan tetap hangat hingga Juli 2017 dengan anomali suhu berkisar +0.25°C s/d +0.5°C.

 

2)    Wilayah perairan Indonesia lainnya diprakirakan akan cenderung normal dan mulai terjadi anomali negatif memasuki bulan Agustus 2017 terutama di wilayah perairan Sumatera  bagian selatan, Selatan Jawa dan Papua dengan anomali suhu permukaan laut berkisar antara -0.5°C s/d -0.25°C.

 

Pengertian & Istilah dalam Prakiraan Musim

1.       Curah Hujan (mm)

Merupakan ketinggian air hujan yang terkumpul dalam tempat yang datar, tidak menguap, tidak meresap, dan tidak mengalir. Curah hujan 1 (satu) milimeter artinya dalam luasan satu meter persegi pada tempat yang datar terapung air setinggi satu milimeter atau terapung air sebanyak satu liter.

2.       Curah Hujan Komulatif (mm)

Merupakan jumlah hujan yang terkumpul dalam rentang waktu komulatif tersebut. Dalam periode musim, rentang waktunya adalah rata-rata panjang musim pada masing – masing Zona Musim (ZOM).

3.       DASARIAN

 Adalah rentang waktu selama 10 hari. Dalam satu bulan dibagi menjadi 3 (tiga)

dasarian, yaitu :

a. Dasarian I             : Tanggal 1 sampai dengan tanggal 10

b. Dasarian II           : Tanggal 11 sampai dengan tanggal 20

c. Dasarian III           : Tanggal 21 sampai dengan akhir bulan

4.       Awal Musim Hujan

Ditetapkan berdasarkan jumlah curah hujan dalam satu dasarian (10 hari) sama atau lebih dari 50 milimeter dan diikuti oleh beberapa dasarian berikutnya. Permulaan musim hujan bisa terjadi lebih awal (maju), sama, atau lebih lambat (mundur) dari normalnya.

5.       Perbandingan antara awal Musim Hujan dengan Rata - ratanya.

           Awal musim suatu daerah prakiraan musim dapat terjadi maju, sama ataupun

           Mundur dengan rata - ratanya.

6.       Sifat Hujan

          Merupakan perbandingan antara jumlah curah hujan selama rentang waktu yang ditetapkan (satu periode musim hujan) dengan jumlah curah hujan normalnya (rata-rata selama 30 tahun periode 1981 - 2010).

           Sifat Hujan dibagi menjadi 3 katagori, yaitu :

           a. Atas normal ( AN )           :  Jika nilai curah hujan lebih dari 115%  terhadap rata-ratanya

           b. Normal ( N )                       : Jika nilai curah hujan antara 85%-115% terhadap rata-  ratanya

           c. Bawah Normal ( BN )      :   Jika nilai curah hujan kurang dari 85%  terhadap rata-ratanya

7.       Zona Musim ( ZOM )

Adalah daerah yang pos hujan rata-ratanya memiliki perbedaan yang jelas antara periode musim kemarau dan musim hujan. Luas suatu wilayah ZOM tidak selalu sama dengan luas suatu wilayah adminitrasi pemerintah. Dengan demikian, satu wilayah ZOM bisa terdiri dari beberapa kabupaten dan sebaliknya satu wilayah Kabupaten bisa terdiri dari beberapa ZOM. Berdasarkan hasil analisis data periode 30 tahun terakhir (1981-2010), wilayah Propinsi Bali dibagi 15 Zona Musim (ZOM) yaitu ZOM 205, ZOM 206, ZOM 207, ZOM 208, ZOM 209, ZOM 210, ZOM 211, ZOM 212, ZOM 213, ZOM 214, ZOM 215, ZOM 216, ZOM 217, ZOM 218, ZOM 219. .