Dinamika Atmosfer dan Laut Terkini

 A.   KONDISI DINAMIKA ATMOSFER DAN LAUT

 Dinamika atmosfer dan laut dipantau dan diprakirakan berdasarkan aktivitas fenomena alam, meliputi : El Nino / La Nina, Indian Ocean Dipole (IOD), Sirkulasi Monsun Asia-Australia, Inter Tropical Convergence Zone (ITCZ), dan Suhu Permukaan laut Indonesia.

 Monitoring dan prakiraan kondisi dinamika atmosfer dan laut dimaksud yang akan terjadi pada Musim Kemarau 2017, adalah :

 

  1. Monitoring dan Prakiraan Fenomena Global
    1. El Nino – La Nina

 Sejak awal Juli 2016 kondisi anomali suhu muka laut di wilayah Ekuator Pasifik Tengah (Nino 3.4) dalam kondisi La Nina Lemah dan kondisi ini terus berlanjut hingga akhir Desember 2016. Pada awal Maret 2017, indeks Nino 3.4 masih berada pada kondisi Netral dengan indeksnya bernilai +0.11.

 Beberapa analisis menunjukkan bahwa kondisi ENSO Netral ini akan berpeluang menguat dengan kategori El Nino Lemah memasuki pertengahan tahun 2017 (periode JJA). Dalam kaitan ini memberikan indikasi, bahwa Awal Musim Kemarau 2017 di Wilayah Indonesia akan berada pada kisaran mundur dan sama dari normalnya di beberapa wilayah.

Indeks Osilasi Selatan (SOI) sejak Desember 2016 sampai dengan Februari 2017 bernilai kurang dari -10, nilai ini menunjukan kondisi Normal. Kondisi demikian memberikan indikasi bahwa aktivitas sirkulasi angin pasat tidak berpengaruh signifikan ke wilayah Indonesia.

 

    1. Indian Ocean Dipole (IOD)

 Nilai Dipole Mode Indeks (DMI) dalam 3 bulan terakhir adalah : -0.06 (Desember 2016) ; -0.06 (Januari 2017) dan +0.18 (Februari 2017). Kondisi ini mengindikasikan Dipole Mode dalam kategori Netral dan diprediksi bertahan hingga November 2017. Dengan demikian, pada Musim Kemarau 2017, uap air dari Samudera Hindia menuju wilayah Indonesia tidak berpotensi bertambah maupun berkurang.

 

  1. Monitoring dan Prakiraan Fenomena Regional
    1. Sirkulasi Monsun Asia-Australia

 Hingga awal Maret 2017 sirkulasi monsun di Indonesia umumnya masih dalam kisaran normal. Sirkulasi angin pada lapisan 850 mb untuk wilayah Indonesia didominasi dari arah barat, sedangkan di wilayah Sumatera bagian Utara, Kalimantan bagian Utara, Sulawesi Utara dan Maluku Utara angin bertiup arah timur laut. Diprakirakan bahwa monsun Asia diprediksi akan menguat hingga April 2017.

 

    1. Daerah Pertemuan Angin Antar Tropis (Inter Tropical Convergence Zone/ ITCZ)

 

Posisi  ITCZ  pada awal Maret 2017 masih berada di sekitar ekuator dan cenderung bergerak ke arah utara mengikuti pergerakan tahunannya. Jika dibandingkan terhadap posisi rata-ratanya, posisi tersebut cukup sesuai dengan kisaran rata-rata, sehingga potensi sifat musim kemarau tahun 2017 di beberapa wilayah diprakirakan akan cenderung normal sesuai kondisi rata-rata wilayah masing-masing.

 

    1. Suhu Muka Laut di wilayah Perairan Indonesia

 

Hingga awal Maret 2017, kondisi suhu permukaan laut di perairan Indonesia, pada umumnya berada pada kondisi netral cenderung dingin dengan anomali suhu berkisar -1°C s/d +1°C. Daerah dengan suhu permukaan laut relatif hangat berada di perairan Selatan Jawa, perairan Barat Sulawesi dan perairan Maluku Utara yang anomali suhu permukaan lautnya mencapai +1°C.

 

Suhu permukaan laut di Indonesia selama Musim Kemarau 2017 diprakirakan sebagai berikut :

 

1)    Wilayah perairan di Utara Sumatera dan Utara Papua diprakirakan akan tetap hangat hingga Juli 2017 dengan anomali suhu berkisar +0.25°C s/d +0.5°C.

 

2)    Wilayah perairan Indonesia lainnya diprakirakan akan cenderung normal dan mulai terjadi anomali negatif memasuki bulan Agustus 2017 terutama di wilayah perairan Sumatera  bagian selatan, Selatan Jawa dan Papua dengan anomali suhu permukaan laut berkisar antara -0.5°C s/d -0.25°C.